
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Nusa Tenggara Timur menurunkan tim layanan terpadu perempuan dan anak selama masa tanggap darurat bencana gempa bumi. Kegiatan berlangsung pada 9–12 September 2026 di Dusun Cua, Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, dengan sasaran 100 anak dan 100 perempuan/lansia yang terdampak.
Latar Belakang
Gempa bumi berkekuatan M 7,7 yang berpusat di Kabupaten Nagekeo pada 15 Agustus 2026 dirasakan di enam kabupaten lain di Pulau Flores. Selain merusak bangunan dan menimbulkan korban jiwa, bencana ini meninggalkan dampak psikososial yang serius. Perempuan dan anak termasuk kelompok yang paling rentan, baik terhadap trauma, terputusnya akses layanan dasar dan pendidikan, maupun meningkatnya risiko kekerasan di lokasi pengungsian. Bersama Dinas P2KBP3A Kabupaten Sikka, tim menyepakati Desa Nitunglea sebagai lokasi kegiatan karena wilayah ini mengalami dampak kerusakan yang cukup parah.
Tim dan Pihak yang Terlibat
Tim dipimpin Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Taurussanty Padang, bersama lima anggota tim, termasuk seorang psikolog. Kegiatan terlaksana berkat koordinasi dengan Dinas P2KBP3A Kabupaten Sikka, Posko Bencana BPBD Kabupaten Sikka, Posko Kecamatan Palue, Pemerintah Desa Nitunglea, serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sikka.
Pelaksanaan Kegiatan
Tim tiba di Maumere pada 9 September, melapor kepada Dinas P2KBP3A dan Ketua Satgas Kabupaten Sikka, lalu menyeberang ke Pulau Palue menggunakan Kapal Motor Canditio selama sekitar lima jam. Setelah itu, tim menempuh perjalanan darat sekitar dua jam melewati ruas jalan yang terdampak longsor dan tiba di lokasi pada 10 September sekitar pukul 11.00 WITA.
Di lokasi, kegiatan diawali dengan dukungan psikososial. Anak-anak diajak mengenali emosi seperti rasa takut dan panik melalui permainan, lagu, dan role play. Mereka juga belajar teknik napas untuk menenangkan diri serta cara melindungi kepala dan tubuh saat gempa. Bagi perempuan dan lansia, tersedia konseling kelompok dan individu, sesi berbagi pengalaman, serta latihan relaksasi otot progresif dan butterfly hug.
Tim juga memberikan edukasi pencegahan kekerasan berbasis gender dan kekerasan terhadap anak kepada anak-anak, orang tua, dan masyarakat. Warga diberi tahu bahwa kekerasan dapat dilaporkan kepada pemerintah desa, kepolisian, UPTD PPA, atau melalui SAPA 129, sedangkan pendampingan psikologis lanjutan dapat diakses melalui HIMPSI NTT. Anak-anak turut dikenalkan pada bagian tubuh yang bersifat pribadi dan cara meminta pertolongan bila merasa tidak aman.
Pada saat yang sama, Dukcapil Kabupaten Sikka membuka layanan pengurusan KIA, KTP, dan Kartu Keluarga di tenda terpisah hingga sore hari. Antusiasme warga tinggi, mengingat dokumen kependudukan menjadi syarat penerimaan bantuan sosial pemerintah.
Tim kemudian menyerahkan bantuan kepada 100 anak (50 laki-laki dan 50 perempuan) serta 100 perempuan/lansia berupa bola, krayon, plastisin, bolpoin, buku tulis, buku gambar, puzzle, boneka, peluit, popok bayi, popok dewasa, dan pembalut. Tim juga menyerahkan secara simbolis materi KIE pemenuhan hak anak kepada Kepala Dinas P2KBP3A Kabupaten Sikka yang diwakili Kepala Bidang P3A dan Penyuluh KB Kecamatan Palue.
Tantangan di Lapangan
Sebagian warga di Dusun Cua belum memahami bahasa Indonesia sehingga komunikasi fasilitator sempat terkendala. Ruang privat untuk konseling individu juga belum tersedia, dan banyak warga masih canggung bercerita di ruang terbuka, sehingga fasilitator mengutamakan konseling kelompok. Warga, terutama perempuan, masih menyimpan rasa takut akan gempa susulan dan kesedihan karena kehilangan tempat tinggal.
Tindak Lanjut
Tim menilai penyintas masih membutuhkan dukungan psikososial yang berkelanjutan dan bertahap sesuai usia. Rekomendasi yang diajukan meliputi skrining kesehatan mental dengan rujukan ke tenaga profesional bila diperlukan, pendampingan psikologis lanjutan bagi anak, ruang aman bagi perempuan untuk berbagi secara berkala, dan penyediaan ruang konseling yang privat.
Kegiatan ini menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur agar perempuan, anak, dan kelompok rentan tetap terlindungi dan memperoleh dukungan pemulihan dalam situasi bencana.
#dp3ap2kbprovntt #pemprovntt #bencanaflores #indonesiaterang #ayobangunntt

